Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian dan 5 Unsur Penulisan Feature

Feature adalah suatu jenis berita yang sering kita jumpai akhir-akhir ini. Penuturan yang mengalir membuat feature berada pada posisi penting dalam sebuah majalah, acara radio, maupun acara televisi. Bagi teman-teman yang menyukai dunia tulis-menulis, kemampuan menulis feature sangat dibutuhkan.

Kenapa? Laporan yang lebih luwes dan tidak berbatas waktu akan membuat proses penulisannya menyenangkan. Tulisannya pun, dapat dikirimkan ke media cetak kapan saja (tanpa harus tergesa dengan issue yang sedang marak). Untuk artikel kali ini kita akan membahas khusus feature tulisan (media cetak), walaupun ada juga feature radio dan televisi.

“Cerita atau karangan yang khas, berpijak pada data dan fakta melalui proses jurnalistik. Feature juga bukan laporan tentang fakta secara lurus sebagaimana dijumpai pada berita langsung /straightnews.”  Menurut Sumadiria (Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature).

Sedangkan feature menurut buku ‘Andai Saya Wartawan Tempo’ adalah artikel kreatif , kadang-kadang subjektif, dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan, atau aspek kehidupan.

Unsur penulisan feature menurut Daniel R. Williamson:

1. Kreativitas (creativity)

Laporan feature harus mengkreasikan sudut pandang penulis berdasarkan riset terhadap fakta-fakta yang telah ditelusuri. Eksplorasi dalam menulis feature lebih luas, maka penulis harus pandai dalam memilih angle(sudut pandang) tulisannya.

2. Subjektivitas (subjectivity)

Sangat mungkin menggunakan sudut pandang orang pertama, atau “saya” dengan emosi campur nalar, sebagai cara mendapatkan fakta-fakta. Bukan berarti menulis fiksi. Nalar pada feature adalah hasil observasi dan wawancara.

3. Informatif (informativeness)

Materi laporan berisi hal yang ringan, namun berguna bagi masyarakat. Walaupun feature terkesan lebih ringan, bukan berarti informasinya dihilangkan. Harus ada muatan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat yang membacanya.

4. Menghibur (entertain)

Isinya bisa membuat pembaca larut dalam kesedihan atau malah tertawa terbahak-bahak. Fungsi penting dalam sebuah feature adalah emosi. Apa yang ingin kita tunjukkan pada pembaca, sebisa mungkin membuat pembaca membayangkan keadaan yang kita tuliskan.

5. Tidak Dibatasi Waktu (unperishable)

Feature tidak lapuk dimakan tenggat waktu (deadline), karena topiknya dibahas secara mendalam. Tidak seperti straightnews, feature terkesan menggunakan pengawet. Tidak ada berita kadaluwarsa bagi feature.

Menurut Wolseley & Campbell, ada beberapa jenis feature:  Human interest, Biografi , Sejarah, Perjalanan, How To (menerangkan cara-cara untuk melakukan sesuatu) , Ilmu pengetahuan , Hobi, Overview (fenomena/tren), Musiman (sesuatu yang sedang booming).

Untuk membuat suatu feature kita harus menentukan angle terlebih dahulu dan diteruskan dengan observasi serta riset. Menentukan angle sangatlah penting, karena mempermudah penulis untuk memilih data/fakta apa saja yang harus dicari dalam proses penulisan. Setelah itu, sediakan panduan wawancara (lengkap dengan nama-nama narasumber). Terakhir, buat judul yang menarik.

Feature yang baik mempunyai Lead/kalimat pembuka yang memikat dan memancing untuk terus dibaca oleh masyarakat. Feature juga menggunakan kalimat penegas melalui kutipan. Dalam penutup biasanya feature menggugah pembaca, mengajak orang berpikir ulang atau menyisakan punch (sesuatu yang menohok).

Menulis feature dapat dilakukan oleh siapapun, keutamaan dari sebuah feature adalah cerita yang dituliskan. Jika teman-teman mendapatkan suatu cerita menarik dari kehidupan sehari-hari apa salahnya menuliskannya menjadi sebuah feature. Demikianlah artikel kali ini, semoga teman-teman semua dapat menulis feature dengan baik.

 Referensi:Pelatihan AKSARA Institute. The Writer’s Workshop Angkatan II, 29 Februari 2016