Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Aku Dia dan Kapal Tua - Chapter 4

"Sudah lebih baik Nak. Jika terasa nyeri, kau tahanlah. Butuh satu jam untuk pulih." Ayah tersenyum, mengusap halus rambutku.

Aku mendesah. Ramuan bubuk ini sungguh perih terasa. Dagingku yang memoncong segar, berubah menjadi hitam kecoklatan.

"Nah, kau minum air ini." nadanya peduli

Letah letai aku meraih segelas air, berwadah bambu kuning. Aih?, Pahit sangat rasanya. Mulutku mengerucut, dengan mata mengatup, menahan rasa air berbau pandan itu.

Aku menghela napas, mengatur tempo yang cukup menyesakkan dada. Lihatlah, orang tuaku satu ini tidak henti menganyomi. Dari awal sampai saat ini, terus saja berupaya mempedulikan keadaanku, memberikan yang terbaik. Sudahlah, sepertinya pikiran buruk itu harus segera kusingkirkan. Tidak baik jika terus-terusan berprasangka buruk kepada seorang yang jelas sudah baik. Cukup sudah, aku meyakini bahwa ia betul-betul tulus mengasihiku.

"Cepat kau kirim, jangan sampai terlambat. Sebelum kepala suku tertidur pulas." Ucapnya bernada tegas, mengikat sepucuk surat di kaki burung hantu itu. Setelah sebelumnya mengeluarkan dari sangkar.

Berada di ambang pintu, Ayah melepas burung berhidung mengerucut itu. Sayapnya mengepak, terbuka lebar. Terbang.

"Ayah?" panggilku lirih

Tanpa gerik, laki laki dengan wajah antusias itu gerap mendekatiku.

"Ada apa Nak, apa yang kamu rasa?" Menyelidik tubuhku lamat, "Katakan saja Nak, tidak usah kau pendam segala apa yang kamu rasa Nak."

"Yah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi..." Nadaku parau, "Aku baik-baik saja, Ayah, jangan tinggalkan aku."

Entah doktrin apa yang membuatku berkata begitu. Tapi, memang benar bahwa aku sungguh tidak mau jauh darinya. Kali ini aku merasakan kasih sayang kembali, setelah tiga tahun di tinggal pergi oleh Ibu. Barangkali sosok ayahlah yang mampu menggantikan perannya, tulus, berhati lembut meski tidak lepas dari wajahnya yang cukup sangar.

Satu jam berlalu, pelita masih menunjukkan sinarnya, ditambah suara jangkrik kian ramai. Aku tidak tahu sekarang pukul berapa, yang jelas semakin lama di sini, semakin bermunculan suara-suara hewan kegelapan. Aku yakin ini sudah larut malam.

Terimakasih Ayah, kamu sungguh pahlawan yang tidak pernah kulupakan jasa pengorbanannya. Masa lalu yang telah menenggelamkan kita, menghanyutkan membawanya jauh dari kata bahagia. Tapi kini, di waktuku yang mendesak, saat situasi tercekik masalah yang hampir membunuhku. Kau datang Ayah, menyelamatkan nyawa seorang pria yang sangat kau cinta, penuh damba.

"Tok, tok" suara pintu diketuk, tiga–lima kali terdengar, diselang oleh panggilan nama Ayah.
Tepat di sebelah pundakku, ayah menaruh kepala, tangan bersedekap di bawahnya, pulas tertidur. Sampai pada ketukan kelima, sontak ayah bangun. Menggelengkan kepala, mendelikkan mata, menoleh ke arah sekitar.

"Tamrin?" Panggilnya lagi, sejurus ayah berjalan—membuka sengkelit balok yang menghalangi lebar pintu.

Aku melihatnya, dengan mengangkat kepala. Astaga, nyeri yang kurasa. Kembali kurebahkan, rengkak pada tulang leher serasa patah.

Mereka berjalan menerobos masuk. Wajahnya tampak seram, penuh coretan hitam. Kepalanya terikat oleh tali, yang memanjang lebih–membuntut ke bawah, tepat di belakang kepalanya.

"Sebentar, boleh kuperhatikan anak muda ini?" tanpa perlu jawaban, tiga orang berpakaian ala suku—penuh simbol dari tulang dan bulu-bulu, menyelidik lamat sekujur tubuhku.

Ayah mengangguk, tersenyum menolehku.

Syukurlah, akhirnya aku paham maksud yang dilakukan tiga orang berdarah biru itu. Ayah menjelaskan.

"Sekarang kamu tidak lagi diacuhkan oleh semua penduduk sini, Nak. Tiga penggawa kepala suku tadi, adalah para pendata pendatang dan penduduk. Dan sekarang dia mencantumkan namamu dalam daftar penduduk suku Raufuk ini." wajah cerahnya menyinari raut mukaku yang muram—akibat merasa takut terjadi hal buruk yang menimpaku.

"Nak, maap tadi ayah tidak sengaja tertidur."

"Tidak mengapa yah." Jawabku tersenyum ramah

Ayah beringsut berdiri, memetikkan jari, mengarah ke ambang pintu. "Bagus sekali kerjamu Blus," lengannya tengah dihinggapi burung, yang diberi isyrat panggilan tadi. Mencium kepalanya.

"Kamu tidur saja, Nak. Jangan pikirkan hal yang tidak-tidak. Semua baik-baik saja."

Aku mengiyakan, sejurus memejamkan mata. Tertidur, penuh ketenangan. Ayah mengandangkan kembali burung hantu yang diberi nama Blus itu.

Suara burung kian ramai, terdengar dari luar, beragam jenisnya–saling berselingan. Mataku redap redup, membukanya perlahan. Nampak silau, cahaya mentari pagi menyinari wajahku. Menerobos masuk dari sela-sela bilik bambu.

Aku menghelas napas, sekali lagi aku harus ingat untuk tidak banyak gerak. Aku menoleh kiri kanan, berhenti sejenak, terpacu melihat sosok ayah tiba-tiba berjalan membawaku satu porsi berisi makanan. Menyerahkannya, tersenyum.

"Nah, kau makanlah Nak. Ini resep masakan terlezat, yang ayah sugukan spesial untukmu" Mendekat di sampingku. Perlahan menyadarkan tubuhku, menjadi setengah duduk.

Aku tersenyum, merasakan kasih sayang yang begitu penuh ketulusan.

"Gimana, enak kan?" tanya ayah meminta kepastian, aku balas dengan mengangguk. Mengiyakan. Tak terlepas dengan senyuman.

Sesuap demi sesuap, telah kulahap dengan nikmat. Sungguh sulit mengibaratkan semua kebaikannya, ayah mengenakan pakaian lusuh itu telah rela banyak mengorbankan apapun yang dimilikinya. Ia telah mau membawaku, mengasihiku, tanpa peduli dengan dirinya sendiri. Lihatlah, ketika hujan tadi malam deras mengguyur alam. Dalam keadaan setengah sadar, aku melihat ayah pontang-panting mencari kain selimut, lima menit berkutat di lemari tak kunjung ia dapat, hingga akhirnya ia melepas jaket yang dikenakannya–memakaikannya padaku sebagai penepis dari udara dingin.

"Nah, minumnya. Yang satu ini manis, tidak kecut seperti malam tadi."

Aku meneguknya. Nyatanya benar, ini adalah air perasan anggur, segar dan manis. Aku mengangguk saat ayah meminta kepastian rasanya. Nikmat.

Waktu terus berlalu, setelah berada lima hari terlegeletak di atas dipan. Kali ini ayah memperbolehkanku berpergian, menyusuri suku Raufuk ini.

Pengobatan rutin sudah memenuhi batas, terapi urat-urat otot tulang berakhir sampai selesai, semua penyakitku dinyatakan sembuh. Teratur, kembali normal.

"Nak, kamu tidak lagi takut terjadi sesuatu. Lepaslah tongkat itu, kemudian berjalanlah. Perlahan."

Benar, kali ini aku betul-betul sembuh total. Setelah dua hari berjalan sana-sini, akhirnya di hari ketujuh, aku dapat berjalan, bergerak secara penuh–tanpa lagi menggunakan alat bantu.

"Yah, tidak mungkin...Ayah, ini sungguhan. Yah, ini memang sungguhan." aku sangat bahagia, ucapanku terbata-bata tidak percaya. Ayah menganggukan kepala, tersenyum bangga.

"Yah, terimakasih. Kau memang perangai hebatku. Kau ayahku, aku sangat menyayangimu yah." dengan penuh linangan air mata, aku terharu, berjalan mendekap memeluknya. Suaraku tercekat, merasakan kebahagiaan yang luar biasa.

"Syukurlah Nak, kau menyadarinya. Aku bangga padamu Nak, atas izin tuhan kita dipertemukan, atas ridho tuhan pula ia mengabulkan do'a ayah Nak. Meski perjalanannya arah melintang, bertaruh nyawa. Kau sungguh hebat, mampu melewatkan itu semua Nak. Dan di sini pada rumah reod, terbilang akan roboh ini. Siang malam ayah panjatkan do'a-do'a kerinduan, berharap anakku bernama Tamrin segera tuhan satukan. Dan sekarang, kau benar-benar datang, berjumpa di tepi pulau yang menyeramkan. Meski keadaanmu begitu payah, penuh luka, bersimbah darah, tetapi ayah rela menerimanya."

Kami melepas pelukan, saling tatap penuh ketulusan. Lengang lima detik, ayah mengajakku duduk. Kali ini gurat wajahnya berubah, matanya nanar menatap seakan penuh keseriusan. Aku terperangah, melangkah menuju bangku panjang di dekat dipan. Terduduk takzim.

"Nak, ada yang harus kukatakan. Sebenarnya tujuan kamu berlayar untuk apa? Mencari apa? Jelaskan Nak, jangan sampai menyerupai kejadian tragis satu tahun lalu."

-- Chapter 3 | Chapter 5 --

Posting Komentar untuk "Aku Dia dan Kapal Tua - Chapter 4"

Dukung kami dengan Share dan Tinggalkan Komentar