Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Global Value Chain: Konsep, Definisi, Perkembangan

Penelitian Global Value Chain (GVC) atau rantai nilai global terus mengalami perkembangan dalam beberapa decade terakhir. Awalnya, studi GVC berkembang dalam kerangka teoritis. Lebih lanjut, studi GVC terus dikembangkan dalam pendekatan penelitian terapan, terutama sejak tahun 2000-an. 

Global Value Chain

Urgensi Analisis GVC 

Analisis GVC semakin banyak mendapat perhatian dari para pembuat kebijakan dikarenakan adanya kebutuhan untuk dapat menghubungkan konsep teoritis dengan pendekatan penelitian yang konkrit dan implementif. Oleh karena itu, kerangka GVC dikembangkan berdasarkan studi kasus dan penelitian kualitatif berbasis perusahaan. 

Pergeseran kerangka analitis GVC dari teori ke aplikasi ini juga menyebabkan penggunaan sumber data yang lebih standar untuk memungkinkan komparabilitas dan pengulangan dari waktu ke waktu. Melalui penelitian terapan, studi GVC menyiratkan bahwa rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti dapat dibuat berdasarkan hasil penggunaan kerangka kerja. 

Dalam skema ini, tujuan riset GVC tidak lagi hanya untuk menjelaskan bagaimana dan mengapa negara-negara tertentu berpartisipasi dalam suatu industri, melainkan juga untuk menentukan seberapa sukses suatu negara dalam industri tersebut dan untuk memberikan rekomendasi tentang bagaimana hal ini dapat dipertahankan atau ditingkatkan di masa depan. 

Agar hasil analisis GVC dapat berguna bagi pembuat kebijakan dan lembaga pemerintah, perbandingan dan rekomendasi ini setidaknya harus memiliki metrik terukur. Matrik yang digunakan dalam analisis GVC umumnya memuat topik-topik utama seperti peningkatan ekspor, output, pekerjaan, upah, atau tingkat keterampilan. Dalam analisis ini, dibutuhkan penggunaan data tingkat nasional dan perusahaan yang spesifik untuk suatu industri tertentu.

Studi GVC menjadi penting karena studi tentang rantai nilai global ini dianggap sebagai satu-satunya cara untuk dapat sepenuhnya memahami sifat produksi dan perdagangan yang tersebar secara geografis di era sekarang. GVC tidak hanya menghubungkan perusahaan di seluruh dunia dengan konsumen, melainkan juga melihat dampak yang signifikan terhadap ekonomi nasional dan internasional. 

Oleh karena itu, hal ini juga berimbas pada kebijakan suatu negara. Apalagi, ketika dunia global dilanda krisis, memahami faktor-faktor yang mendorong GVC, dan implikasi dari kemunculannya, menjadi hal yang semakin penting.

Definisi Global Value Chain

GVC atau rantai nilai global pada dasarnya mengacu pada arus lintas batas barang, investasi, jasa, pengetahuan dan orang-orang yang terkait dengan jaringan produksi internasional. Kondisi dunia yang berubah akibat globalisasi turut mendorong perkembangan GVC menjadi semakin intens.

GVC menghasilkan rekonfigurasi lengkap perdagangan dunia dalam hal peserta dan keunggulan komparatif. Oleh karena itu, untuk menilai tingkat daya saing suatu negara dan dampak kebijakan ekonominya, diperlukan studi GVC yang membuat pertimbangan dimensi proses produksi lintas batas.

Lantas, apa definisi GVC? Berbagai literatur ekonomi internasional telah mendefinisikan GVC dalam terminology yang beragam. Namun, definisi paling umum bisa diambil dari Global Value Chain Initiative di Duke University, yang menyatakan bahwa “global value chain describes the full range of activities undertaken to bring a productor service from its conception to its end use and how these activities are distributed over geographic space and across international borders” atau rantai nilai global menggambarkan berbagai aktivitas yang dilakukan untuk membawa produk atau layanan dari konsepsinya ke penggunaan akhir dan bagaimana aktivitas ini didistribusikan atas ruang geografis dan melintasi batas-batas internasional.” (DFAIT 2011, hal.86). 

Dalam GVC, kita akan banyak menggunakan istilah spesifik seperti 'spesialisasi vertikal', 'outsourcing', 'offshoring', 'internasionalisasi produksi', 'berbagi produksi internasional', 'disintegrasi produksi', 'multistage produksi', 'spesialisasi intra-produk', 'relokasi produksi', 'memotong rantai nilai', dan 'segmentasi produksi internasional'. 

Namun, Jones dan Kierzkowski (1990) mengusulkan bahwa istilah-istilah ini lebih pas dikategorisasikan dalam sebutan 'fragmentasi'.

Konsep Global Value Chain

GVC telah menjadi paradigma untuk produksi bagi sebagian besar barang dan jasa di seluruh dunia. Seiring semakin intensnya globalisasi, produksi saat ini terfragmentasi secara vertikal di berbagai negara, seperti misalnya suku cadang dan komponen diproduksi di lokasi yang berbeda dan dirakit baik secara berurutan di sepanjang rantai pasokan atau di lokasi akhir. 

Jaringan yang mengoperasikan GVC sangat kompleks, dengan melibatkan perusahaan di bidang manufaktur, logistik, transportasi dan layanan lain, bahkan juga melibatkan agen bea cukai dan otoritas publik lain. Dalam hal ini, perdagangan rantai pasokan ditentukan oleh biaya input, biaya unbundling dan teknologi, yang juga turut berkontribusi membentuk bagaimana berbagai tahap produksi dihubungkan.

GVC  menjadi konsep yang memperluas penggunaan matriks input-output (I-O) dalam kerangka perdagangan internasional sehingga memungkinkan dampak saling ketergantungan antar industri di berbagai negara.

Ukuran interdependensi ini telah diberi label 'spesialisasi vertikal' yang diformulasikan oleh Hummels et al. (2001). Spesialisasi vertikal ini dianggap cocok untuk menangkap situasi yang menggambarkan bahwa suatu produksi dilakukan di dua atau lebih negara, sehingga membuat barang melintasi perbatasan internasional setidaknya dua kali.

Perkembangan Global Value Chain

Rantai nilai secara konkrit telah menjadi jauh lebih global sejak tahun 2003. Bahkan, Word Investment Report menyebutkan bahwa 60% perdagangan internasional setidaknya dilakukan dalam skema GVC. 

Adanya peningkatan bagian dari nilai suatu produk ditambahkan di luar wilayah tempat negara penyelesaian membuat produksi berlabel 'Factory World' terus menjadi wacana penting.

Jika dilihat dari korelasi antar negara yang telribat dalam GVC, studi menemukan bahwa negara-negara yang lebih ‘besar’ memainkan peran penting dalam GVC. Negara dengan dimensi regionalnya yang masih dominan, secara progresif memberikan tempat untuk jaringan yang lebih global. 

Misalnya saja, peran sentral Jerman dan AS serta meningkatnya kepentingan China juga merupakan hasil dari analisis tersebut, yang menjelaskan bahwa negara dengan kekuatan lebih besar mampu mendominasi dan memainkan peran lebih penting pada GVC, ketimbang dari negara lain yang terlibat. 

Dalam hubungan antar negara yang terintegrasi dengan baik sebagai pemasok, pada gilirannya posisi dalam GVC adalah hal yang paling penting dalam hal hasil ekspor dan nilai tambah yang terkandung dalam ekspor. 

Implikasi GVCs juga berpengaruh pada cara ekonom dalam menafsirkan perkembangan ekonomi makro dan, pada akhirnya, mempengaruhi keputusan kebijakan ekonomi suatu negara berdasarkan kepentingan nasionalnya.

Misalnya saja, indikator seperti keunggulan komparatif dan nilai tukar efektif riil biasanya didasarkan pada pengukuran perdagangan dalam istilah bruto. Namun, konsep 'country of origin' dalam label produk ekspor menjadi semakin sulit diterapkan. Ini lantaran berbagai operasi produksi yang tersebar di seluruh dunia. 

Kenyataannya, suatu negara mungkin tampak sebagai pengekspor besar dari suatu barang tertentu. Namun, negara itu mungkin tidak memberikan kontribusi banyak pada rantai nilai tambah produksinya. Oleh karena itu, analisis potensi ekspor, daya saing, dan perkembangan pasar tenaga kerja suatu negara perlu mempertimbangkan integrasinya dalam GVC.

Global Value Chain dan Implikasinya saat Krisis 

Semakin pentingnya GVC juga telah mengubah hubungan antara arus perdagangan dan dinamika makroekonomi secara agregat, yang merupakan tantangan bagi model makro tradisional. Hal ini semakin jelas ketika terjadi krisis global yang melanda dunia.

Krisis global semakin menunjukkan bahwa GVC mempengaruhi besarnya dan transmisi guncangan ekonomi makro internasional. Selama periode krisis, akan tampak keruntuhan dalam perdagangan global yang sangat parah, yang hasilnya tersinkronisasi di seluruh dunia, dan terutama terlihat pada perdagangan barang modal dan setengah jadi. 

GVC dalam krisis memiliki peran sentral dalam transmisi dari jaringan produksi global atau global production network. Adanya perubahan dalam spesialisasi vertikal berkontribusi besar terhadap penurunan nilai tambah perdagangan selama krisis, dan juga menyoroti pentingnya perubahan dalam komposisi permintaan akhir. 

Lebih jauh, sektor jasa maupun manufaktur akan sangat terpengaruh oleh jatuhnya perdagangan nilai tambah yang terjadi di suatu negara, yang pada akhirnya berimbas pada negara-negara lain yang berada dalam satu rantai. 

Referensi: 

  • Amador, João and Filippo di Mauro. 2015. The Age of Global Value Chains: Maps and Policy Issues A VoxEU.org eBook. London: CEPR Press
  • Frederick, Stacey. 2021. Global value chain mapping. Duke.
  • Johnson, R (2014), “Five Facts about Value-Added Exports and Implications for Macroeconomics and Trade Research,” Journal of Economic Perspectives 28(2), pp. 119-142.
  • Di Mauro, F, H Plamper and R Stehrer. 2013. Global Value Chains: A Case for Europe to Cheer Up, CompNet Policy Brief 3, Appendix II.
  • Timmer, M P, B Los, R Stehrer and G J de Vries. 2013b. Rethinking Competitiveness: The Global value chain revolution. VoxEU.org.
  • De Backer, K. and S. Miroudot. 2013. Mapping global value chains. OECD Policy Paper 159, Paris: Organisation for Economic Co-operation and Development.

*Penulis: Hasna Wijayati

Posting Komentar untuk "Global Value Chain: Konsep, Definisi, Perkembangan"