Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
SELAMAT DATANG Jika ada yang ingin ditanyakan silahkan tulis dikotak komentar. Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca.

Pengertian Pertanian Organik, Konsep, Prinsip Dasar dan Perkembangannya

Era yang semakin maju membuat kehidupan manusia banyak dipenuhi dengan bermacam hal yang instan. Sayangnya, aneka produk instan ini rentan dengan kandungan kimia yang mengancam kesehatan. Menyadari pentingnya kesehatan dan bahaya zat kimia berlebih, manusia mulai mencari alternatif dan mempopulerkan pertanian organik.

Pertanian organik bukan hal baru. Sejarah pertanian organik sudah dimulai sejak 1920 ketika para pakar biologi tanah mengembangkan teori biodinamika guna menanggulangi dampak negatif penggunaan bahan kimia tanpa mengurangi hasil pertanian. Pertanian organik semakin berkembang di era modern ketika banyak orang menggaungkan back to nature. 

Pengertian Pertanian Organik

Pertanian organik merupakan sebutan dari proses atau cara bertani yang lebih sehat dan aman tanpa campur tangan bahan kimia berbahaya. Pengertian Pertanian organik (Organic Farming) menurut IASA (1990) adalah sistem pertanian yang mendorong tanaman dan tanah dapat tetap sehat melalui cara pengelolaan tanah dan tanaman yang dilakukan melalui pemanfaatan bahan-bahan organik atau alamiah, serta proses yang menghindari penggunaan pupuk buatan dan pestisida kecuali untuk bahan-bahan yang diperkenankan.

Selain itu, pengertian pertanian organik juga bisa dipahami sebagai teknik budidaya pertanian yang berorientasi pada pemanfaatan bahan-bahan alami tanpa penggunaan aneka bahan kimia sintesis seperti pupuk maupun pestisida, kecuali hanya bahan yang diperkenankan (ramah lingkungan), sehingga budidayanya bertumpu pada peningkatan produksi, pendapatan serta berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Hasil dari pertanian organik adalah produk organik. Adapun pengertian produk organik adalah  produk hasil tanaman (bisa juga ternak) yang diproduksi melalui praktek-praktek ekologi dan sosial ekonomi berkelanjutan dengan mutu yang baik, sesuai standar nilai gizi serta terjaga dari zat kimia berbahaya. 

Perlu dipahami bahwa pertanian organik tidak selalu diartikan sebagai proses yang meninggalkan bahan organik saja. Lebih dari itu, pertanian organik atau produk organik yang dihasilkan juga harus memperhatikan lingkungan dalam budidayanya.

Pertanian organik perlu dilakukan dengan melihat ekonomi, pengendalian erosi, penyiangan, pemupukan, serta pengendalian hama yang memanfaatkan bahan-bahan organik atau non organik lain yang diizinkan, atau aman dan ramah lingkungan. 

Tujuan Pertanian Organik

Pertanian organik dilakukan dengan tujuan utama untuk dapat menyediakan produk-produk pertanian seperti bahan pangan yang aman dikonsumsi bagi kesehatan sekaligus tidak merusak lingkungan. 

Pertanian organik biasa digunakan untuk mendukung kebiasaan hidup sehat atau back to nature. Atribut yang biasa digunakan untuk menunjukkan hasil pertanian organik biasanya adalah slogan “jaminan mutu”, “aman konsumsi”, “kandungan nutrisi tinggi”, dan “ramah lingkungan”.

Pertanian organik juga bertujuan untuk bisa mendukung kesinambungan siklus biologi dengan melibatkan mikro organism, flora, fauna, tanah, serta mempertahankan  dan meningkatkan kesuburan tanah dengan mempertimbangkan berbagai dampak sosial ekologi dan polusi dari proses budidaya yang dilakukan.

Prinsip Dasar Budidaya Pertanian Organik

Dalam pertanian organik, terdapat beberapa prinsip dasar yang perlu dipahami. Berikut adalah prinsip dasar pertanian organik dari IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movements/ 1992):

  1. Lingkungan kebun harus bebas dari kontaminasi bahan-bahan sintetik. Jadi, pertanaman organik tidak boleh berdekatan dengan pertanaman yang masih menggunakan pupuk buatan, pestisida kimia dan zat lain yang tidak diizinkan. Apabila lahan sudah tercemar, dibutuhkan proses konversi selama 2 tahun dengan pengelolaan berdasar prinsip pertanian organik.
  2. Bahan Tanaman dengan varietas yang telah beradaptasi sesuai lingkungan, sehingga tidak berdampak negatif terhadap lingkungan.
  3. Pola Tanam yang sesuai dengan berpijak prinsip-prinsip konservasi tanah dan air serta berwawasan lingkungan sehingga mendukung pertanian berkelanjutan
  4. Pemupukan dan Zat Pengatur Tumbuh dari bahan organik atau zat yang diizinkan.
  5. Pengelolaan Organisme Pengganggu dengan menggunakan pestisida hayati atau yang sudah diverifikasi aman.

Bahan organik dalam Pertanian Organik

Dalam pertanian organik, beberapa bahan organik yang dianggap aman sebagai pupuk adalah sebagai berikut :

  • Bahan yang berasal dari kebun atau luar kebun yang diusahakan secara organik
  • Bahan yang berasal dari kotoran ternak, urin ternak, kompos sisa tanaman, pupuk hijau, jerami, mulsa lain, sampak kota (kompos) dan bahan organik lain, yang tidak tercemar bahan kimia sintetik atau zat-zat beracun.
  • Pupuk buatan (mineral)
  • Bahan yang tidak mengandung Urea, ZA, SP36/TSP dan KCl
  • Bahan dengan kandungan K2SO4 (Kalium Sulfat) maksimal 40 kg/ha; 
  • Boleh mengandung kapur, kieserite, dolomite, fosfat
  • Bahan yang tidak menggunakan semua zat pengatur tumbuh

Metode Pertanian Organik

Dalam pertanian organik, secara umum ada dua metode yang harus diperhatikan agar sistem pertanian yang dilakukan dapat sejalan dengan prinsip pertanian organik dan ramah lingkungan. Hal yang harus diperhatikan, berupa:

  • Memastikan tanah yang hendak digunakan untuk area pertanian bersih dari berbagai paparan bahan kimia. Jika tanah masih terpapar sisa pestisida, tanah harus dilakukan konversi atau diberi pupuk alami.
  • Menggunakan proses alami, sehingga seringkali memakan waktu lebih banyak dari pertanian anorganik dalam prosesnya. 

Referensi:

  1. Dispertan. 2020. Konsep Pertanian Organik. Diakses dari https://dispertan.bantenprov.go.id/lama/read/artikel/759/Konsep-Pertanian-Organik.html
  2. IASA 1990. Planting The Future : A Source Guide to Sustainable Agriculture in The Third Word. Minneapolis.
  3. IFOAM 1992. Basic Standard of Organic Agriculture ang Food Processing. International Federation of Organic Agriculture Movement. Tholey-Theley. 24p
  4. Pierrot J.M, 1991.  Basic Standart for Organic Coffea and Tea.  In First International Conference on Organic Coffea and Tea.  Switzerland, June 2nd to 4th
  5. Rimbakita. 2020. Pertanian Organik – Pengertian, Sejarah Perkembangan & Keuntungan, diakses dari https://rimbakita.com/pertanian-organik/
  6. Wahyu Chandra. 2018. Pertanian Organik sebagai Solusi Pertanian Berkelanjutan, diakses dari https://www.mongabay.co.id/2018/11/26/pertanian-organik-sebagai-solusi-pertanian-berkelanjutan/
  7. Winaryo 2002. Pertanian Organik Dunia. Warta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia      18 (3) : 92-99.
  8. Petani digital. 2020. Apa Itu Pertanian Organik? Ketahui Jawaban Selengkapnya Disini!, diakses dari https://petanidigital.id/pertanian-organik/

*Penulis: Hasna Wijayati