Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Profil Negara Bhutan

Bhutan merupakan sebuah negara kecil di Asia Selatan. Bhutan berbentuk kerajaan yang dikenal dengan “Negeri Naga Guntur”. Wilayah Bhutan terhimpit selang India dan Republik Rakyat China. 

Artikel ini membahas mengenai karakteristik Bhutan, sejarah berdirinya, profil negara, cuaca dan iklim, jumlah penduduk, pariwisata dan fakta menarik, sumber daya alam, sistem ekonomi, sistem pemerintahan, dan hubungan kerja sama antara Bhutan dan Indonesia.

Profil Negara Bhutan

A. Karakteristik Kerajaan Bhutan

1. Peta Bhutan

Bhutan merupakan sebuah kerajaan yang berada di Pegunungan Himalaya. Bhutan  juga menduduki posisi strategis di antara dataran India Utara dan plato Tibet yang diduduki Cina.

Bhutan memiliki pemandangan alam yang indah, rangkaian pegunungan berhutan lebat yang puncaknya ditutup salju, lembah rumput yang luas, dan hutan yang berpohon besar. Letak Bhutan yang terpencil kerap kali membuat wilayah ini negara aneh dan asing. Penduduk setempat menyebut Bhutan dengan nama “Druk Yul” yang artinya “tanah naga”.

Luas wilayah Bhutan adalah 38.394 km². Kerajaan ini terbagi menjadi tiga daerah geografis utama. Bagian utara terletak di dalam rangkaian Himalaya Besar dengan pegunungan mencapai ketinggian 7.300 m. Sungai-sungai berhulu di Himalaya Besar memencar ke selatan membentuk tandon air bagi sungai-sungai utama negeri ini.

Daerah Himalaya Tengah terletak di Bhutan Tengah memiliki lembah subur seperti Lembah Paro dan Lmebah Thimbu. Sedangkan di perbatasan selatan terdapat Lembah Duars yang meluas hingga India.  

Secara astronomis, Bhutan terletak diantara 27⁰ LU - 30⁰ LU dan 90⁰ BT - 30⁰ BT. Wilayah Bhutan berbatasan dengan negara lain, seperti:

2. Bendera Bhutan

Bendera Bhutan

Bendera Bhutan memiliki simbol naga petir yang bernama Druk atau Thunder Dragon. Simbol naga ini dilatarbelakangi dengan warna oranye. Warna oranye di Bhutan melambangkan budaya spiritual agama Buddha. Sedangkan warna kuning melambangkan tradisi.

Simbol naga dalam bendera Bhutan membawa bola di masing-masingnya. Bola-bola tersebut melambangkan perhiasan atau kekayaan Bhutan. Terlihat juga naga yang digunakan sedang mengaum, yang melamabangkan bahwa masyarakat Bhutan tidak akan tunduk terhadap penjajah. Warna putih dalam gambar naga melambangkan kemurnian dan kesucian orang-orang Bhutan.

3. Lambang Bhutan

Lambang Bhutan
Foto: en.wikipedia.org/wiki/Emblem_of_Bhutan#/media/File:Emblem_of_Bhutan.svg

Lambang nasional yang terkandung dalam lingkaran terdiri dari ViĊ›vavajra atau “wajra ganda” yang melambangkan dua berlian atau petir “Dorje). Berlian tersebut diletakkan di atas sebuah teratai yang dihiasi oleh permata dan dibingkai oleh dua naga.

Petir melambangkan kekuasaan sekuler dan agama. Teratai melambangkan kemurnian, mengungkapkan permata berdaulat kekuasaan. Dua naga melambangkan laki-laki dan perempuan berdiri bagi nama negara yang dinyatakan dengan suara yang luhur.

B. Sejarah Berdirinya Bhutan

Sejarah Kerajaan Bhutan hingga saat ini masih belum jelas. Hal ini dikarenakan beberapa catatan mulia telah musnah setelah terjadinya kebakaran di Punakha, Ibukota lawas pada 1827. 

Beragam anak sekte Buddha kemudian muncul yang diamankan oleh baraham maharaja Mongol dan Tibet. Setelah runtuhnya Bangsa Mongop pada tahun ke-14, anak-anak sekte itu kemudian berlomba untuk mendapatkan supremasi dalam bentang politik dan agama. Hal ini membuat naiknya anak sekte Drukpa di kesudahan taus ke-16.

Sampai ratus ke-17, Bhutan hadir sebagai fiefdom yang saling bertempur dan dipersatukan oleh Tibet dan pemimpin militer Shabdrung Ngawang Namgyal. Untuk mempertahankan daerah kekuasaannya, Namgyak membangun sebuah jaringan dzong (benteng) yang tak terkalahkan. Selain itu, ia juga mengumumkan kdoe hukum yang membantu membawa raja-raja setempat di bawah kendali terpusat.

Setelah kematian Namgyal pada 1651, Bhutan jatuh dalam suasana anarkis. Kemudian Tibet melakukan penyerangan ke Bhutan pada 1710 dan 1730 dengan dibantu Mongol. Akan tetapi, kedua serangan tersebut berhasil digagalkan dan terjadi gencatan senjata yang ditandatangani pada 1759.

Pada ratus tahun ke-18, Bhutan melakukan serangan dan menduduki Kerajaan Cooch Behar di selatan. Kemudian terjadi perdamaian yang ditandatangani keduanya. Perjanjian tersebut berisikan bahwa Bhutan setuju mundur dari perbatasannya sebelum 1730. Akan tetapi, perdamaian tersebut tidak berjalan dengan baik sehingga pertempuran perbatasan dengan Inggris berlaku hingga ratusan tahun berikutnya.

Pertempuran tersebut mengakibatkan terjadinya Perang Duar (1864-1865). Akibat perang ini, Bhutan kalah dan harus menandatangani Akad Sinchula dengan India Britania. Sebagai bagian dari pemulihan perang, Bangsa Duar diserahkan kepada Kerajaan Bersatu Brtania Raya dan Irlandia dalam pertukaran sewa Rs. 50,000. Dengan akad tersebut sekaligus mengakhiri permusuhan antara India Britania dan Bhutan.

Tahun 1870-an, perjuangan kekuatan selang lembah saingan Paro dan Trongsa menyebabkan terjadinya Perang Saudara di Bhutan. Akibatnya Ugyen Wanchuck naik tahnya menjadi ponlop (gubernur) Tongsa. Selama kepemimpinannya, ia berhasil mengalahkan musuh politiknya dan mempersatukan negeri setelah terjadinya beberapa perang saudara tahun 1882-1885.

Pada 1907, Ugyen Wangchuck secara resmi dinobatkan sebagai raja pusaka Bhutan oleh Majelis Rahib Buddha, pejabat pemerintahan, dan kepala keluarga penting yang menonjol. Kemudian Pemerintah Britania menyetujui hingga pada 1910, Bhutan menandatangani akad yang berisikan bahwa Britania Raya “memandu” urusan luar negeri Bhutan.

C. Profil Negara Bhutan

  1. Nama resmi: Kerajaan Bhutan (Kingdom of Bhutan)
  2. Nama lokal: Druk Gyalkhap
  3. Bentuk pemerintahan: Monarki Konstitusional
  4. Kepala negara: Raja Jigme Khesar Namgyel Wangchuk (sejak 14 Desember 2006)
  5. Kepala pemerintahan: Perdana Menteri Tshering Tobgay (sejak 27 Juli 2013)
  6. Ibukota: Thimphu
  7. Luas wilayah: 38.394 km²
  8. Etnis: Etnis Ngalop (Etnis Bhote) 50%, Etnis Nepal 35%, dan penduduk migran 15%
  9. Bahasa resmi: Dzongkha
  10. Agama : Buddha 75.3%, Hindu 22.1%, dan agama lainnya 2.6%
  11. Mata uang: Ngultrum (BTN)
  12. Hari nasional: 17 Desember 1907 (Hari Pembentukan Kerajaan Bhutan)
  13. Lagu kebangsaan: “Druk Tsendhen” (The Thunder Dragon Kingdom)
  14. Kode telepon: 875

D. Cuaca dan Iklim di Bhutan

Bhutan memiliki dua musim yaitu musim panas dan musim dingin. Saat musim panas cuacanya cenderung hangat dan cerah. Sementara saat musim dingin cuacanya cenderung lembab. Dalam satu tahun, suhu bervariasi mulai dari 13° C hingga 34° C dan jarang di abwah ° C atau di atas 37° C.

Musim panas terjadi selama 6 bulan mulai dari 31 Maret hingga 7 September dengan suhu tertinggi harian rata-rata di atas 32° C. Dalam satu tahun, bulan terpanas di Bhutan terjadi saat bulan Juni dengan rata-rata suhu terendah 34° C dan tertinggi 26° C.

Musim hujan terjadi selama 2 bulan mulai dari 5 Desember hingga 11 Februari dengan suhu tertinggi harian rata-rata di bawah 26° C. Dalam satu tahun, bulan terdingin di Bhutan terjadi pada bulan Januari dengan rata-rata terendah 13° C dan tertinggi 24° C.  

E. Jumlah Penduduk Bhutan

Jumlah penduduk Bhutan tahun 2020 sekitar 771.612 jiwa. Penduduk Bhutan didominasi oleh etnis Ngalop dan etnis Sharchop (Bhutan Barat dan Bhutan Timur). Etnis Ngalop mendominasi Bhutan karena Raja dan elit politik Bhutan merupakan etnis Ngalop.

Selain itu, terdapat juga etnis Lhotshampa yang secara harfiah berarti “Orang Bhutan Selatan”. Etnis ini merupakan kelompok heterogen dimana sebagian besarnya merupakan keturunan Nepal. Pada awal 1970-an, terjadi perkawinan campuran antara masyarakat Bhutan Lhotshampa dengan masyarakat Bhutan karena didorong oleh pemerintah. 

Kemudian pada akhir1980-an, Pemerintah Bhutan memaksa pergi sebanyak 108.000 etnis Lhotshampa dari rumahnya dan menyita tanah mereka. Hal ini membuat saat ini etnis Lhotshampa yang tersisa di Bhutan hanya sekitar 20% dari populasi Bhutan.

Agama mayoritas yang dianut masyarakat Bhutan adalah Buddha Vajrayana sekitar 60% hingga 75%. Sekitar 25% - 30% menganut agama Hindu. Agama lainnya menyumbang kurang dari 1% populasi. Konstitusi Bhutan saat ini yaitu menjamin kebebasan agama.

Bahasa nasional Bhutan adalah bahasa Dzongkha. Bahasa ini merupakan salah satu dari 53 bahasa yang ada dalam keluarga bahasa Tibet. Selain bahasa Dzongkha, bahasa Inggris juga dikenalkan sebagai bahasa nasional dalam pembelajaran pendidikan siswa di sekolah.  

F. Pariwisata dan Fakta Menarik Bhutan

Kendati luas wilayahnya kecil, akan tetapi Bhutan memiliki beberapa destinasi wisata yang indah dan patut untuk dikunjungi, seperti:

1. Biara Sarang Harimau (Tiger’s Nest Monastery)

Biara Sarang Harimau tergantung di tebing di atas hutan pinus biru dan bunga rhododendron yang mempesona. Saat ingin berkunjung disini, kalian harus mendaki bukit setinggi 900 meter atau bisa juga menggunakan kuda poni. 

Jalur perjalanan melintasi kapel lampu mentega (chapel of butter lamps) dan turun ke air terjun dekat Gua Singa Salju (Snow Lion Cave). Pemandangan lembah Paro dan suasa yang suci membuat tempat ini menjadi destinasi favorit baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

2. Dzong Punakha

Dzong Punakha atau Pungthang Dewachen Phodrang (Istana Kebahagiaan Agung) merupakan dzong paling cantik dan megah di Bhutan. Tempat ini terletak di antara dua sungai yaitu Pho Chu (Pria) dan Mo Chu (Betina) yang memiliki perbedaan warna air yang mencolok.

3. Jalur pendakian Dzong Zuri

Dzong Zuri menjadi dzong tertua di Bhutan. Tempat ini terdapat goa tempat Buddha datang bermeditasi pada abad ke-8. Dzong Zuri juga dilengkapi dengan pemandangan alam yang sangat cantik dan menakjubkan.

4. Lembah Gangtey

Lembah Gangtey disebut juga dengan Shangri-La Bhutan. Lembah ini memiliki  pemandangan yang indah dan jalur gunung melewati hutan megah. Terdapat juga, tanaman yang berubah dari rhododendron dan magnolia menjadi pakis dan bambu kerdil. Selain itu, terdapat biara Gangtey yang bersejarah dan pusat informasi bangau berleher hitam. Serta, akan ada atraksi khusus bagi mereka yang mengunjungi Gangtey selama musim dingin, karena mereka dapat melihat bangau berleher hitam yang sedang beraksi. 

Setelah mengetahui destinasi wisata yang ada di Bhutan, selanjutnya kita akan membahas mengenai fata-fakta unik yang ada di Bhutan, antara lain:

  1. Sebelum tahun 1999, di Bhutan tidak tersedia internet dan televisi. Oleh sebab itu, Bhutan menjadi negara terakhir di dunia dalam hal memulai memakai televisi
  2. Terdapat Kementerian Kebahagiaan. Fungsi kementerian ini untuk megukur Kebahagiaan Nasional Bruto. Jadi, kualitas hidup di Bhutan ditentukan oleh keseimbangan antara keadaan finansial dengan nilai-nilai mental mereka
  3. Tidak ada tunawisma atau orang yang tidak punya rumah. Jika seseorang kehilangan rumah, maka ia dapat menghadap Raja dan kemudian diberikan sepetak tanah untuk dibuat rumah dan bercocok tanam
  4. Masyarakat Bhutan mengenakan pakaian tradisional. Pria memakai jubah tebal sepanjang lutut dan wanita memakai gaun panjang. Status sosial individu dapat dilihat dari warna syal yang tersampir di bahu kiri mereka. Rakyat biasa memakai syal berwarna putih sedangkan bangsawan dan biksu memakai syal berwarna kuning
  5. Kedudukan wanita sangat dihormati di Bhutan. Oleh sebab itu, tradisi pewarisan mulai dari hak milih rumah, hewan ternak, dan tanah menjadi milik anak perempuan tertua bukan laki-laki.

G. Sumber Daya Alam Bhutan

Dalam pertanian, Bhutan memproduksi dua tanaman utama yaitu beras sebanyak 43% dan jagung sebanyak 49%. Tanaman lain yang tumbuh di Bhutan seperti gandum, barley, minyak sayur, dan berbagai jenis sayuran.

Dalam perhutanan, Bhutan memiliki pohon cemara dan gugur. Konservasi hutan ini sebagian besar disebabkan oleh populasi kcil negara dan tingkat pembangunan yang rendah. Medan tanah yang kasar membuat hutan di Bhutan sulit untuk dieksploitasi tanahnya. Oleh sebab itu, pada 1952, didirikan Departemen Kehutanan dan Layanan Taman untuk mengawasi eksploitasi sumber daya ini. 

H. Sistem Ekonomi Bhutan

Di bidang perekonomian, Bhutan termasuk dalam negara dnegan ekonomi terkecil di dunia. Kemudian, pertumbuhan ekonomi di Bhutan semakin membaik dan berkembang dari waktu ke waktu.

Perekonomian utama di Bhutan berasal dari pertanian dimana sekitar 585 penduduknya berkecimbung di pertanian. Komoditas pertanian Bhutan antara lain beras, jagung, umbi-umbian, jeruk, produk susu, dan telur.

Bhutan juga menjual tenaga listrik yang dibangkitkan oleh tenaga air (PLTA) ke India. Selain pertanian, perekonomian Bhutan juga didukung oleh adanya industri semen, produk perkayuan, pengolahan buah-buahan, dan pariwisata.

I. Sistem Pemerintahan Bhutan

Sistem pemerintahan Butan adalah Monarki Konstitusional. Raja bHutan merupakan kepala negara. Kekuasaan eksekutif filakukan oleh Lhengye Zhungtshog (Dewan Menteri) dan kekuasaan legislatif dipegang oleh pemerintah dan Majelis Nasional.

Pada 2008, Bhutan menciptakan sejarah dengan memperkenalkan demokrasi parlementer sehingga kerja-kerja berubah dan partai politik menjadi resmi. Dalam sistem ini terdapat parlemen yang terdiri dari majelis tinggi dan majelis rendah. Majelis rendah terafiliasi dengan partai-partai politik. Pemilihan majelis tinggi pertama kali dilakukan pada Desember 2007 sedangkan pemilihan majelis rendah pada Maret 2008.

Dalam hubungan internasional, Bhutan bergabung sebagai anggota PBB pada 1971. Bhutan juga menjadi anggota dalam beberapa organisasi di bawah naungan PBB seperti Wolrd Health Organization (WHO), Food and Agriculture Organization (FAO), International Bank for Reconstruction and Development (IBRD), dan organisasi lainnya.

J. Kerja Sama Bhutan dan Indonesia

Pada 19-20 September 2011, Kepala Badan Standardinasasi Nasional (BSN) di sela-sela pelaksanaan Sidang DEVCO di New Delhi menandatangi dua perjanjian sekaligus. Perjanjian tersebut ditandai dengan penandatanganan MoU antara Indonesia-Bhutan dan Indonesia-Uzbekistan. Kerja sama ini dilakukan sebagai tindakan lebih lanjut untuk menjajaki dan merumuskan aktifitas bersama yang menguntungan perkembangan dan penerapan standar baik untuk masing-masing negara.

Penandatanganan kerja sama ini dilakukan oleh DR. Bambang Setiadi dengan Director of The Bhutan Standards Bureau (BSB), Phuntsho Wangdi. Kerjasama ini menunjukkan bahwa Indonesia melalui Badan Standardisasi Nasional (BSN) memperoleh perhatian dan kepercayaan yang baik oleh negara lain terutama negara berkembang.

Harapannya pengalaman Indonesia dalam penerapan dan pengembangan standar nasional dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi negara-negara mitra. Kepercayaan negara lain untuk bermitra merupakan suatu kredit positif bagi BSN. 

REFERENSI

  • Dickson. (2022). “Profil Negara Bhutan”. https://ilmupengetahuanumum.com/profil-negara-bhutan/
  • Semut Belang. (2022). “Profil dan Informasi tentang Negara Bhutan”. https://semutaspal.com/bhutan/
  • Weatherspark. (2022). “Iklim dan Cuaca Rata-Rata Sepanjang Tahun di Bhutan”. https://id.weatherspark.com/y/111716/Cuaca-Rata-rata-pada-bulan-in-Phuntsholing-Bhutan-Sepanjang-Tahun
  • Tantri Sridianti. (2022). “Apa Sumber Daya Alam Bhutan?”. https://perbedaannya.com/apa-sumber-daya-alam-bhutan/index.html
  • BSN RI. (2011). “Indonesia Menandatangani Kerja Sama dengan Bhutan dan Uzbekistan”. https://bsn.go.id/main/berita/berita_det/3348/Indonesia-Menandatangani-Kerjasama-dengan-Bhutan-dan-Uzbekistan
  • Eka Mandala. (2020). “Bhutan Negara Kerajaan di Pegunungan Himalaya”. https://www.pinhome.id/blog/bhutan/
  • Bonauli. (2019). “Naga-Naga di Bendera Negara, Keren Tapi Beda-Beda”. https://travel.detik.com/international-destination/d-4759227/naga-naga-di-bendera-negara-keren-tapi-beda-beda

*Penulis: Nabila Salsa Bila