Sejarah Kerajaan Sriwijaya: Raja-Raja, Masa Kejayaan, Masa Kemunduran, dan Peninggalan

Kerajaan Sriwijaya merupakan Kerajaan Budha yang bercorak maritim. Kerajaan Sriwijaya mengontrol perdagangan di jalur utama Selat Malaka dan memiliki hubungan baik dengan China dan India. Kedekatan ini terlihat dari seringnya Kerajaan Sriwijaya mengirimkan perwakilan ke Kekaisaran China. Tujuan pengiriman tersebut sebagai bentuk ketundukan dan jaminan keamanan.

Untuk mengetahui lebih jelas mengenai Kerajaan Sriwijaya dapat di simak dalam pembahasan berikut ini.

A. Berdirinya Kerajaan Sriwijaya 

Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad ke-7 oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Dalam bahasa Sanskerta, Sriwijaya berasal dari kata “Sri” yang memiliki arti “cahaya” dan “wijaya” yang memiliki arti kemenangan. Jika digabungkan memiliki makna kemenangan yang gemilang.

Pada awal pendiriannya, Sriwijaya telah berhasil menguasai Sumatera bagian selatan, Bangka dan Belitung, dan Lampung. Kemudian, Sri Jayanasa mencoba melancarkan ekspedisi militer dengan menyerang Jawa yang dianggap tidak mau berbakti kepada Raja Sriwijaya.

Selain itu, ia juga melakukan perjalanan dengan memimpin 20.000 tentara dari Minanga Tamwan ke Palembang, Jambi, dan Bengkulu. Dari perjalanan tersebut, ia berhasil menaklukkan daerah-daerah strategis untuk melakukan perdagangan sehingga Kerajaan Sriwijaya dapat menjadi kerajaan yang makmur. 

B. Letak Kerajaan Sriwijaya

Letak Kerajaan Sriwijaya masih menjadi perdebatan. Pendapat yang cukup populer dikemukakan oleh G. Coedes pada tahun 1918 yang mengatakan bahwa pusat Sriwijaya berada di Palembang.

Pendapat lain dari J.L. Moens, saat merekonstruksi peta Asia Tenggara menggunakan berita-berita Cina dan Arab, menemukan bahwa pada awalnya berpusat di Kedah kemudian pindah ke Muara Takus. 

Sementara itu, menurut Soekmono dan ahli lainnya, berpendapat bahwa Sriwijaya berpusat di Jambi. Alasannya karena lokasi Jambi yang terlindung karena berada di dalam teluk yang menghadap langsung ke laut lepas.

Hingga saat ini, masih belum ditemui titik terang mengenai titik asli Kerajaan Sriwijaya. Akan tetapi, para ahli sepakat bahwa Kerajaan Sriwijaya yang bercorak maritim memungkinkan mereka memiliki kebiasaan untuk berpindah-pindah pusat kekuasaan.

Hal ini juga didukung oleh adanya Teori Mandala oleh Robert von Heine-Geldern yang mengatakan bahwa pusat dari kerajaan-kerajaan kuno Asia Tenggara merupakan raja itu sendiri dan pengaruh-pengaruhnya bukan berasal dari kekuasaan territorial atau ibukota kerajaan seperti yang terdapat di Eropa.  

C. Nama-Nama Raja Sriwijaya

1. Sri Indrawarman

Sri indrawarman merupakan penerus dari Sri Jayanasa menurut Prasasti Ligor A (775 Masehi) yang ditemukan di Thailand Selatan. Dalam prasasti tersebut juga dituliskan bahwa Raja Sriwijaya menyerupai Indra yang membangun kuil di Ligor. Selain itu juga adanya Hsin-t’ang-hsu yaitu catatan sejarah Dinasti Sung dari abad ke 11 yang menyebutkan bahwa Raja Sriwijaya mengirim utusan pada 724 Masehi.

2. Raja Dharanindra

Berakhirnya kekuasaan Sri Indrawarman membuat poros kekuasaan Sriwijaya beralih ke Jawa yaitu Kerajaan Medang yang berpusat di Mataram, Jawa Tengah. Nama Dharanindra muncul dari prasasti Ligor B dan prasasti Nalanda di India dengan gelar “Sailendrawamsatilaka Sri Wirawairimathana” yang berarti “Permata Keluarga Sailendra”.

Sailendra merupakan wangsa yang pada saat itu tengah berkuasa di Jawa. Para ahli menyimpulkan bahwa Sriwijaya pada saat tahun-tahun penulisan bukti telah jatuh ke kekuasaan Sailendra dari Jawa.

Hal inilah yang diduga menjadi alasan mengapa struktur genealogis Sriwijaya terputus hingga munculnya Balaputradewa sebagai raja karena telah masuknya Sriwijaya dalam kekuasaan Jawa. Sehingga membuat Sriwijaya tidak lebih dari hanya sebagai wilayah koloni semata.

3. Raja Samaratungga

Terdapat dua perbedaan mengenai Samaratungga. Pertama dari Krom yang berpendapat bahwa Samaratungga merupakan anaknya. Sementara pendapat kedua dari Slamet Muljana yang mengatakan bahwa Samaratungga merupakan cucunya.

Samaratungga sendiri tidak gemar melakukan peperangan dan memilih fokus terhadap kerajaannya. Hal ini dapat dilihat dimana ia menyelesaikan pembangunan Candi Borobudur yang berada di Muntilan, Jawa tengah.

Samaratungga memiliki anak perempuan yang bernama Pramodhawardani. Kemudian anaknya dinikahkan dengan Rakai Pikatan. Tujuan pernikahan tersebut untuk meminimalisir gesekan antara agama Hindu dan Budha di Kerajaan Medang.

4. Rakai Pikatan

Rakai Pikatan merupakan menantu dari Samaratungga sementara Balaputradewa merupakan pamannya atau adik dari Smaratungga. 

Akan tetapi hubungan antara Rakai Pikatan dan Balaputradewa tidak baik karena saling berebut kekuasaan. Akibat perebutan tersebut membuat Balaputradewa terusir sehingga kembali ke tanah kakek dan leluhurnya di Sumatera.

Setelah itu Balaputradewa memutuskan untuk membangun kembali Kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Pembangunan ini membuat Wangsa Sailendra terpecah menjadi dua bagian.

5. Balaputradewa

Balaputradewa membangun kembali Sriwijaya di Sumatera pada abd ke-IX Masehi. Sehingga membuat pelacakan sejarah menjadi lebih jelas dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya.

Balaputradewa juga menjalin hubungan dengan Raja Dewapaladewa dari Benggala, India yang tertuang dalam Prasasti Nalanda. Hubungan tersebut menandakan bahwa Balaputradewa mendukung pendidikan pendeta Buddhis di Nalanda.

Melalui kepemimpinan Balaputradewa membuat Sriwijaya mencapai masa gemilang dimana berhasil menjadi penguasa perdagangan di Melayu dan meninggalkan hubungan dengan Jawa.

6. Sri Udayadityawarman

Catatan mengenai Sri Udayadityawarman tertuang dalam Kitab Sejarah Dinasti Sung pada tahun 960 Masehi dan 962 Masehi. Kemudian menurut J.L. Moens nama Raja Sriwijaya dapat disamakan dengan Sri Udayadityawarman.

7. Sri Culamaniwarman atau Cudamaniwarmadewa

Sri Culamaniwarman merupakan raja yang menjalin hubungan baik dengan kerajaan besar Cola di India dan Kekaisaran Cina. Terjalinnya hubungan tersebut sebagai akibat dari adanya ancaman serangan dari Jawa pada tahun 922 Masehi (Prasasti Hujung Langit).

Kemudian Sriwijaya kembali berkuasa yang dibuktikan dengan adanya pengiriman utusan ke Cina pada tahun 1003 Masehi. Tujuannnya untuk membangun candi di salah satu komplek Muara Takus yang diberi nama “cheng-tien-wan-shou” atau Candi Bungsu.

Pembangunan candi tersebut sebagai salah satu bentuk hadiah dan kesetiaan Kerajaan Sriwijaya terhadap Kekaisaran Cina yang bersedia unuk menjadi pelindung Sriwijaya.

8. Sri Marawijayatunggawarman

Sri Marawijayatunggawarman merupakan anak dari Sri Culamaniwarman. Ia melakukan penyeranganterhadap Raja Jawa yang telah menyerbu Palembang, Dharmawangsa Teguh pada tahun 1016. Penyerangan tersebut mengakibatkan runtuhnya Kerajaan Medang

9. Sri Sanggramawijayatunggawarman

Nama Sri Sanggramawijayatunggawarman tertulis dalam Prasasti Tanjore (1030 Masehi). Dalam prasasti tersebut juga tertulis bahwa Kerajaan Sriwijaya telah takluk pada serbuan Rajendracoladewa dari Kerajaan Cola. 

Kendati demikian, Kerajaan Sriwijaya masih dapat bertahan dan mengirim utusan kepada Dinasti Sung pada tahun 1028. Kemudian Kerajaan Cola kembali menyerang Kerajaan Sriwijaya pada tahun 1068. Penyerangan tersebut tidak disertai dengan penjajahan sehingga Kerajaan Sriwijaya masih tetap dapat berkuasa.

Dalam catatan terakhir Cina mengenai utusan Sriwijaya pada tahun 1178 disebutkan bahwa nama Sriwijaya tidak pernah muncul lagi hingga abad ke-XIII yang menyebutkan bahwa San-Fo-Tsi sebagai kerajaan yang besar dan kuat.

Akan tetapi, para ahli berpendapat bahwa Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-XIII sebagai pusat perdagangan dan pelayaran merupakan bagian dari Kerajaan Melayu Dharmasraya. Hal ini disebabkan karena Singasari mengirim Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275 yang menegaskan bahwa Sumatera telah dikuasai oleh Kerajaan Melayu bukan Sriwijaya.

D. Masa Kejayaan Sriwijaya

Masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya terjadi saat pemerintahan Raja Balaputradewa. Hal ini dilihat dari keberhasilan Kerajaan Sriwijaya di bidang maritim dengan menguasai jalur perdagangan melalui Selat Malaka, Selat Sunda, dan Semenanjung Malaya.

Rakyatnya juga hidup makmur karena kerajaan memiliki pemasukan dari pajak kapal-kapal dagang yang melintas. Selain itu, dibangun juga armada laut yang cukup kuat untuk mengindari dan mengatasi berbagai macam gangguan di jalur pelayaran.

Kerajaan Sriwijaya juga menjalin hubungan perdagangan dengan India, Cina, dan bangsa-bangsa lainnya. Selain bidang maritim, Kerajaan Sriwijaya juga unggul dalam bidang politik yaitu Kerajaan Sriwijaya dianggap sebagai kerajaan nasional pertama. Dasarnya yaitu wilayah kekuasaan yang dimiliki sangatlah luas. 

Raja Balaputradewa juga menjalin hubungan dengan Kerajaan Benggala yang dipimpin oleh Raja Dewapala Dewa. Kemudian Raja Dewapala Dewa memberikan sebidang tanah kepada Balaputradewa. Tanah tersebut kemudian digunakan untuk mendirikan asrama bagi para pelajar dan siswa yang sedang menempuh pendidikan di Nalanda.

Kerajaan Sriwijaya terkenal dengan kapal-kapal pengawal pedagang dan akan bersedia membunuh siapapun yang berani singgah tanpa izin. Sriwijaya juga menjadi pertemuan antara pendeta India dan Cina yang berlayar. Pendeta-pendeta tersebut kemudian menjadi salah satu sumber mengenai keberadaan Sriwijaya seperti I-Tsing, Sakyakirti, Dharmaktri, dan Atisa.

Di bawah pimpinan Balaputradewa pengaruh Kerajaan Sriwijaya meluas dari menguasai perdagangan. Dengan jalur utamanya yaitu dari Selat Malaka hingga ke Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, dan sebagian Pulau Jawa. Kerajaan Sriwijaya juga menjadi pusat agama Buddha Mahayana di Asia Tenggara.

E. Keruntuhan Kerajayaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran pada abad ke-11. Kemunduran tersebut terjadi akibat hal-hal berikut ini:

  1. Adanya serangan sebanyak tiga kali dari Kerajaan Colamandala dari India yang membuat kekuasaan di Selat Malaka melemah
  2. Terdesak oleh Kerajaan Thailand dan Singasari
  3. Banyak raja-raja taklukan yang melepaskan diri
  4. Perekonomian yang mundur karena bandar-bandar penting saling melepaskan diri.

F. Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

1. Prasasti Kedukan Bukit (682 Masehi)

Prasasti Kedukan Bukit berisikan mengenai pendirian Kerajaan Sriwijaya dan informasi mengenai Raja Dapunta Hyang yang menaiki perahu untuk mengambil siddhayantra dan cerita mengenai kemenangan Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Kedukan Bukit ditemukn di tepi Sungai Batang, Palembang dengan menggunakan huruf Pallawa dan huruf Sanskerta.

2. Prasasti Talang Tuo (684 Masehi)

Prasasti Talang Tuo berisi mengenai nama raja pertama Kerajaan Sriwijaya secara lebih lengkap yaitu Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Prasasti ini juga berisikan mengenai doa Buddha Mahayana dan serita mengenai pembangunan taman oleh Raja Sri Jayanasa.

3. Prasasti Ligor, Thailand (775 Masehi)

Prasasti Ligor berisi mengenai kekuasaan Kerajaan Sriwijaya di Ligor dan pendirian kuil. Selain itu, juga menjelaskan mengenai nama Raja Sri Indrawarman dan Dharanindra. Prasasti ini juga menceritakan mengenai kisah Raja Sriwijaya yang mendirikan Trisamaya Caitya untuk Karaja. Prasasti Ligor ditemukan di Thailand bagian selatan oleh Nakhon Si Thammarat.

4. Prasasti Kota Kapur (686 Masehi)

Prasasti Kota Kapur berisi mengenai kutukan-kutukan terhadap siapapun yang membangkang terhadap Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini ditemukan di Pulau Bangka bagian Barat.

5. Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu berisi mengenai kutukan-kutukan bagi siapapun yang tidak mau mematuhi perintah raja, para pengkhianat, mata-mata dari penguasa wilayah di dalam mandala Sriwijaya, bersekutu menentang Sriwijaya, dan tidak patuh terhadap apapun yang menjadi keputusan maharaja Sriwijaya.

Prasasti Telaga Batu ditemukan di kolam Telaga Biru, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang.

6. Prasasti Karang Berahi

Prasasti Karang Berahi ditemukan di Desa Karang Berahi, Merangin, Jambi. Prasasti ini berisi mengenai kutukan bagi orang-orang jahat dan tidak setia dengan raja Sriwijaya.

7. Prasasti Palas Pasmah

Prasasti Palas Pasmah ditemukan di pinggir rawa Desa Palas Pasemah, Lampung Selatan. Prasasti ini menggunakan huruf Pallawa dan Bahasa Melayu Kuno. Prasasti ini berisi mengenai kutukan bagi orang-orang yang tidak setia dengan raja Sriwijaya.

8. Prasasti Hujung Langit

Prasasti Hujung Langit ditemukan di Desa Haur Kuning, Lampung di tahun 997 Masehi.

9. Prasasti Leiden (1005 Masehi)

Prasasti Leiden berisi mengenai hubungan baik antara Kerajaan Sriwijaya dengan Kerajaan Colamandel dari Tamil, India bagian Selatan. Prasasti ini ditulis pada lempengan tembaga menggunakan bahasa Sanskerta dan Tamil.

10. Candi Muara Takus

Candi Muara Takus terletak di Desa Muara Takus, Kabupetan Kampar, Provinsi Riau. Candi Muara Takus merupakan komplek peninggalan Sriwijaya yang salah satunya merupakan bangunan sebagai hadiah dan ketundukan kepada Kaisar Cina.

Candi ini bercorak Buddha yang khas dengan susunan stupa-stupa. Dalam kompleks candi ini juga terdapat Candi Sulung, Candi Bungsu, Stupa Mahligai, dan Palangka.

11. Prasasti Nalanda, India (860 Masehi)

Prasasti Nalanda merupakan pusat pembelajaran agama Budha yang populer dan banyak dikunjungi oleh para pendeta dari berbagai penjuru dunia. Prasasti ini mencatat Raja Balaputradewa sebagai raja yang mendukung kegiatan pembelajaran di Nalanda.

Referensi 

  • https://www.studiobelajar.com/kerajaan-sriwijaya/
  • https://www.kompas.com/stori/read/2021/05/30/204231679/kerajaan-sriwijaya-letak-raja-raja-masa-kejayaan-dan-peninggalan?page=all
  • https://regional.kompas.com/read/2022/01/04/180826378/kerajaan-sriwijaya-sejarah-berdiri-puncak-kejayaan-raja-raja-dan?page=all
  • https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5681304/kerajaan-sriwijaya-sejarah-berdiri-letak-raja-raja-dan-masa-kejayaannya

*Penulis: Nabila Salsa Bila

Bacaan lain:

Posting Komentar untuk "Sejarah Kerajaan Sriwijaya: Raja-Raja, Masa Kejayaan, Masa Kemunduran, dan Peninggalan"